Wednesday, September 21, 2016

Explore Probolinggo: Ranu Agung


Momen mengunjungi rumah kakek-nenek di desa menjadi momen yang paling ditunggu. Tak hanya melepas kangen semata, momen ini aku pergunakan dengan baik. Apalagi kalau bukan jalan-jalan. Ranu Agung menjadi alasan keduaku bersemangat untuk kembali ke Probolinggo.



***

Pagi itu, kami berempat —Mama, aku dan dua saudara, telah siap bertualang. Motor yang aku tunggangi melaju menjauh dari rumah kakek-nenek. Jalanan yang tak pernah aku jamah, mau atau tidak mau harus aku taklukkan. Bukan pedesaan namanya jika jalanannya beraspal mulus. Disini kita harus jeli dalam berkendara. Menghindari jalan berlubang, bergoyang di atas jalan berbatuan. Ini seni berkendara di pedesaan, bung!


Sebagi penghibur, sesekali perkebunan kopi menyapaku di sisi kanan-kiri jalan. Kapan lagi bisa melihat kopi secara langsung. Di kota, hanya kopi sachet yang aku temui di warung kelontong depan rumah.


Entah berapa lama kami berkendara, akhirnya kami sampai juga di Ranu Agung yang terletak di kecamatan Tiris. "Legaa... Akhirnya sampai juga. Ini bokong sudah panas duduk lama-lama di motor", keluhku. Motor aku parkir secara rapi di tempat yang telah tersedia. Biaya parkir di desa ternyata sama saja seperti yang di kota. Hehe!


Aku pikir ranunya tak jauh dari tempat parkir motor. Dugaanku salah saudara-saudara. Setelah membayar tiket masuk yang harganya sama dengan biaya parkir, kita harus turun... jauh... ke bawah.






Di tengah perjalanan turun menuju Ranu Agung. Ada sebuah kolam kecil dengan air yang jernih. Satu saudaraku langsung meminumnya dari bambu yang berfungsi sebagai pipa air disini. Sedangkan aku, hanya berfoto di tengah kolam.


"Itu sudah terlihat ranunya", ucap si Mama dari belakang. Ya, beliau berada paling belakang.


Nafas panjang kami hela sesampainya di bawah. Mahakarya yang teramat indah tersaji di depan mata kami. Lansekap ranu yang berpadu dengan tebing di tepiannya. Berpadu dengan hawa sejuk pegunungan. Damai sekali. Terlebih tempat ini masih terbilang sepi, meskipun kami datang saat hari libur panjang.












Beberapa bapak menegur, menawarkan kami jasa sewa rakit. Dengan uang Rp 10 ribu per orang, kami diajak berkeliling ranu dengan rakit. Tentu bukan kami sendiri yang mendayung rakit tersebut, salah satu dari bapak tadi lah yang menjadi nahkodanya.


"Pelampungnya dipakai ya, takut jatuh nanti", ucapnya dengan bahasa Madura yang kental. "Tapi, kalau mau foto-foto boleh dilepas", imbuhnya. LAH!? PIYE TOH.


Ada beberapa pemberhentian di dekat tebing. Dimana si bapak tadi akan menepikan rakit dan kita bisa puas berfoto dengan latar belakang tebing-tebing cantik. Meskipun kata si bapak pelampungnya boleh dilepas saat bernarsis ria. Tapi bagi aku yang tidak begitu jago renang, pelampung tersebut masih melekat dalam tubuh. Hitung-hitung jadi outerwear gitu. Hehe!


Selesai memutari sepertiga dari ranu, kami kembali lagi ke daratan. Dengan gaya sok-sokan, aku mengambil tongkat bambu dipergunakan si bapak mendayung tadi. Susah sekali ternyata, terasa berat, padahal hanya berpura-pura mendayung untuk difoto.


Disini suasananya masih asri dan alami. Betah sekali aku berlama-lama disana. Segerombolan kupu-kupu kuning atau entah itu apa namanya, cantik berterbangan kesana kemari.




Oh ya, bagi kalian yang mau ke Ranu Agung ada baiknya untuk buang air kecil atau besar terlebih dahulu di atas —dekat loket tiket masuk— sebelum turun ke bawah. Sejauh pengamatanku di bawah tidak terlihat toilet soalnya.


Dari jauh terlihat sekumpulan awan abu-abu yang bergerak perlahan ke arah kami. Masih ada satu tempat lagi yang harus kami tuju hari itu juga. Kami langsung bergegas naik ke atas. Rasa capek saat naik dua kali lipat rasanya dibandingkan saat turun. Untung sebelum naik kami membeli minuman ringan dan camilan sebagai teman kembali ke atas.


Motor pun kembali dipacu menuju tempat berikutnya...